Just Say It - a repost from old blog post



 

“You should only ask someone if they love you if you love them, regardless of what their answers might be."

 Quoted from “I’ll Be Right There” by Shin Kyung Sook


Perasaan tertolak memang menyedihkan. Tak ada yang mau merasakannya. Tak semua orang pun merasa sanggup mengambil resiko.

Padahal, bukankah jauh lebih menyakitkan untuk tersiksa dalam ketidaktahuan?

Bila mereka tak memiliki rasa yang sama, apakah rugi kita untuk tahu itu?

Jangan salah, saya pun pernah terjebak dalam perasaan takut itu. Saya tak berani bertanya karena saya tak yakin saya sanggup menerima penolakan.

Beberapa kali juga saya melihat di film atau membaca di buku, tentang bagaimana jujur saja sudah membuat kita merasa lebih baik dan semua akan baik-baik saja.

Nyatanya, tidak semua hal seindah yang disajikan di film atau buku. Setidaknya, tidak semudah yang kita lihat atau duga. Juga, tidak sesulit itu.

Complicated? Yes, it is.

Saya merasakan sendiri bahwa mengungkapkan perasaan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Pun, penolakan bukan hal yang mudah diterima dan dilupakan.

Tapi, saya juga pernah merasakan saat perasaan tak terucap, dan memang tak bisa lagi tersampaikan.

Secara jujur, saya lebih memilih untuk terluka saat tahu cinta tak berbalas.

Saya percaya bahwa setiap orang butuh ‘closure’. Saya tidak yakin dengan pasti kata yang tepat untuk disandingkan dengan ‘closure’, tapi mari kita anggap sebagai, sebuah penyelesaian.

Bagaimana kita bisa bergerak maju saat belum menyelesaikan yang sebelumnya?

Bagaimana kita bisa bergerak maju saat kita bahkan belum tahu apa yang harus dilakukan? Apakah berhenti, mundur, atau maju?

Maka demi mendapatkan sebuah penyelesaian, mulailah memberanikan diri untuk mengatakan apa yang harus kau katakan.

(as posted on my personal blog 29 October 2014)

Jujur, saya sendiri terkejut betapa relatable apa yang saya tulis 7 tahun lalu dengan apa yang saya rasakan saat ini.

Seringkali ketakutan akan luka membuat kita malah memperdalam luka itu, bahkan dalam sebuah ketidakpastian. Seringkali kita menyakiti diri kita sendiri, tenggelam dalam perasaan takut.

Saya pun sempat kembali terjebak dalam ketakutan tersebut. Padahal, saya mengerti tak seharusnya saya khawatir. Hanya saja, semakin kita peduli terhadap suatu hal, semakin besar ketakutan kita akan kehilangan.

Pada akhirnya, semua kembali kepada kepercayaan dan komitmen yang telah saya buat pada diri saya sendiri.

Saya masih takut terluka. Masih takut kecewa. Masih takut kehilangan. Masih takut mencintai. Masih takut untuk percaya.

Meski begitu, saya memilih untuk terus melangkah dalam iman bahwa Tuhan selalu bersama dengan saya saat saya percaya dan berserah.

Saya tak tahu kemana langkah ini akan berakhir, tapi saya percaya bahwa Tuhan selalu hadir.

Post a Comment

0 Comments