Cerita Pertama: Lomba



Halo, semuanya!

Kalau kemarin saya sudah bercerita tentang hukuman pertama yang saya dapatkan, sekarang saya akan bercerita mengenai lomba.

Oh ya, buat kalian yang baru pertama kali mengikuti blog ini, saya sedang berbagi cerita-cerita tentang pengalaman pertama saya. Seri atau challenge ini saya lakukan bersama dengan teman blogger saya yang kece, yaitu Mpah dari Flying without Limit.

Kalian bisa mengikuti juga cerita-cerita pertama dari Mpah, ya :)

Kalau bercerita tentang lomba, sebenarnya ada dua peristiwa yang susah saya lupa dan saya akan share di sini dua-duanya, ya :D

Yang pertama adalah waktu saya masih bocah, mengikuti lomba 17-an di sekolah. Dasarnya memang saya itu anak yang penuh drama, maka ikut lomba saja penuh drama. Waktu itu, lombanya adalah sepeda hias. Saya punya sepeda, tapi saya tidak bisa menghias sepeda saya. Jadilah saya mewek lalu gak mau ikutan lomba.

Untungnya saat itu ada teman kakak yang sedang main ke rumah, lalu membantu saya menghias sepeda. Saya pun tersenyum lagi. Bangga banget melihat sepeda saya sudah kece, dengan renda-renda yang jelas norak tapi anak kecil kan seneng aja, ya.

Besoknya, saat sampai di sekolah, ternyata lombanya bukan cuma soal sepeda hias. Tapi lomba bersepeda. Dan lomba paling lambat sampai garis finish.

Waktu itu saya belum lihai bersepeda dan saya rada apes, saya kena di tempat yang landai. Sehingga, saya pun tiba paling pertama di garis finish. Saya ingat banget kalau guru-guru, teman-teman tuh semuanya udah ribut, "Pelan-pelan, kan lombanya lambat-lambatan!"

Terus, saya inget banget saya jengkel bukan main, karena saya pun tak bisa mengontrol sepeda saya. Masih untung saya tidak jatuh, begitu pikir saya saat itu. Kalau dipikir lagi, sebenarnya saya tidak perlu ngomel juga, sih. Ikhlas saja gitu, namanya aja permainan, kan. Haha.

Kemudian, lomba yang berikutnya saya ikuti adalah lomba sinopsis. Jadi, ceritanya, waktu itu guru bahasa Indonesia di sekolah saya itu ada 2. Satu angkatan itu terdiri dari empat kelas, satu guru mengajar di dua kelas.

Satu kali, keduanya masuk ke kelas saya. Mereka menyampaikan bahwa akan ada lomba Bahasa Indonesia, dan mereka akan menilai dari tulisan kami. Mereka berkeliling, membaca tulisan kami dari buku yang kami bawa saat itu, kemudian berunding sejenak. Akhirnya, diumumkan bahwa saya yang terpilih menjadi wakil dari kelas kami.

Saya girang banget, karena terus terang saat guru saya mengambil buku saya, agak deg-degan gitu. Pengin banget, karena Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran favorit saya.

Dipikir lagi, sepertinya proses mereka memilih anak lewat tulisan itu agak dibuat-buat, deh. Dari pemikiran saya yang sekarang, sepertinya itu cuma membuat efek kejutan atau buat seru-seruan, aja. Bagaimana mereka bisa menilai kemampuan kami cuma dari hasil melihat beberapa lembar tulisan kami, dalam waktu palingan sekitar 10menit, ya gak, sih? Atau saya aja yang terlalu curigaan? Hahaha.

Singkat cerita, saya akhirnya mengikuti lomba tersebut. Seingat saya, saya itu mengikuti lomba pengetahuan Bahasa Indonesia. Jadi, kami belajar seperti cerdas cermat gitu. Pada prakteknya, ternyata tugasnya adalah membuat sinopsis.

Di tingkat gugus, saya lolos, dan saya senang banget. Kemudian, berlanjut ke tingkat kecamatan. Sayangnya, saya sudah gugup duluan. Kenapa? Karena saya hanya mempersiapkan diri untuk membuat sinopsis.

Kalau sebelumnya saya hanya harus membuat sinopsis dari satu artikel, di tingkat kecamatan saya perlu membuat sinopsis untuk sebuah novella yang terdiri dari 3 bab. Saya stress luar biasa, karena saya takut saya luput mencantumkan hal penting.

Apalagi, ternyata, tak selesai sampai di situ, saya juga harus menceritakan kembali novella tersebut secara lisan di hadapan dewan juri. Udahlah saya memang dasarnya selalu ngomong dalam kecepatan yang hampir kayak rapper, ditambah sedang gugup. Hilanglah sudah ketenangan dan pedoman saya XD

Tentu saja saya kalah di tingkat tersebut dan kecewa sama diri sendiri. Hanya saja, saya tetap bersyukur karena saya sudah berani mengikuti lomba tersebut dengan persiapan tergolong minim. Persiapan cuma sekitar 2 minggu seingat saya. Plus, ya itu tadi, guru saya pun tidak tahu pasti apa yang dilombakan karena petunjuknya terlalu general.

Oh ya, ada juga satu lomba lagi yang saya ikuti dan berkesan, yaitu lomba cerpen yang akhirnya membuat saya bisa jadi punya label Author di Goodreads, hahah. Iya, saya memang agak receh, maaf ya, teman-teman :"

Buat saya, mengikuti lomba itu bukan cuma perkara ingin menang, tapi juga belajar dari pengalaman. Terus terang, saya orang yang cukup lemah motivasinya dan mudah menyerah. Jadi, mengikuti lomba itu tantangan tersendiri buat saya.

Kalau kamu, bagaimana? Apa kamu tergolong yang senang lomba atau malah menghindari lomba? 

Yang pasti sih, jangan pernah takut kalah, ya. Karena yang paling penting adalah pelajaran yang kita dapat dari prosesnya, bukan cuma hasilnya sesuai atau tidak dengan harapan kita.

Semangat belajar terus, teman-teman. Tentunya juga, selalu berbahagialah~

Cheers,
Zis

Post a Comment

1 Comments

  1. Kok ada sih lomba lambat-lambatan? Tapi kalau jalurnya landai memang jadi tantangan sih supaya nggak bablas, ya.

    ReplyDelete