Cerita Pertama #3: Ikutan Les



Halo!

Saya sedang menjalani tantangan menulis atau lebih tepatnya kolaborasi untuk menulis bareng dengan teman saya, Mpah dari blog Flying Without Limit. Setelah bercerita tentang pengalaman pertama pindah sekolah dan juga pertama kali naik angkutan umum, topik berikutnya adalah tentang pengalaman pertama ikutan les/kursus.

Saya yang mengusulkan tema ini karena mengingat dulu saya tergolong anak yang pengin banget bisa les, tapi malah gak dikasih les sama ortu, haha. Agak aneh, memang, ya. Di saat anak lain dipaksa buat les, saya malah pengin les. Emang tuh manusia seringnya pengin yang gak boleh, dan gak pengin yang disuruh.

Singkat cerita, saya pertama kali banget les itu adalah les pelajaran, demi mendukung kelulusan SMA. Saya ambil les Fisika dan Kimia, bareng sama temen-temen saya. Kita ambil yang grup karena akan jadi lebih murah.

Kemudian, setelah lulus SMA, saya memutuskan untuk mengisi waktu dengan les musik, saya mengambil les biola. Kenapa biola? Karena terlihat elegan. Tapi, permasalahannya, saya gak bisa baca not balok. Jadi proses belajar saya terhambat.

Setelah kursus biola, saya juga sempat kursus gitar, fotografi, web design, dan juga memasak kue. Dari beberapa pengalaman tersebut, saya terus terang saja merasa bahwa saya adalah tipe orang yang lebih cocok ikutan seminar/kursus singkat daripada kursus yang berjenjang karena saya orang yang cepat bosan dan mudah menyerah, lol.

Meski begitu, metode kursus yang memadatkan materi dan lebih banyak praktek, lebih efektif buat saya. Saya mudah terdistraksi, cuma, mungkin, saya lebih baik apabila sesi secara privat. 

Kenapa harus privat? Karena saya malas bertanya, hahaha.

Saat kursus musik, sistemnya memang privat jadi gurunya sangat menyesuaikan dengan pace saya. Maklum, saya tergolong lemot karena kalau saya memulai suatu kursus, berarti saya beneran 0 dan gak pernah ada pengalaman sebelumnya. Beda dengan peserta kursus lain yang biasanya sudah ada bekal dasar.

Contohnya saja, saat saya kursus fotografi, teman-teman saya sudah bisa tuh mengambil gambar dari angle menarik, tahu kamera yang OK, tahu lensa yang cocok digunakan, sedangkan saya kameranya saja cuma minjem dari adik, haha.

Dari beberapa pengalaman tersebut, saya akan membagikan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan mengikuti sebuah kursus:

1. Komitmen. Apakah kamu yakin bisa menjalani kursus sesuai jangka waktu yang ditentukan? Pastikan juga kursus tersebut memang benar-benar cocok dengan kebutuhan kamu sebelum mengambil kursusnya.

2. Waktu. Cocokkan dengan jadwal harianmu. Kalau ada pertemuan tatap muka, berapa lama yang kamu butuhkan untuk bisa ke sana? Apakah cocok dengan jadwalmu?

3. Pengajar & materi. Pastikan kamu tahu siapa yang mengajar kamu dan kamu tertarik dengan apa yang diajarkan. Penting agar bisa meminimalisir kemungkinan kamu merasa bosan atau gak cocok dengan guru/materinya.

4. Harga. Cek anggaran kamu, cocok atau tidak. Bandingkan juga dengan tempat lain/penyedia jasa lain yang sejenis. Jangan sampai malah membebani kamu.

5. Kredibilitas. Kursus/les memang sering dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengisi waktu luang. Meski begitu, ada baiknya kita juga menjadikannya untuk membantu kita mengembangkan diri. Nah, di sinilah pentingnya kita tahu kredibilitas dari tempat mengajar. Kalaupun kita tidak mengejar sertifikasi, setidaknya, pastikan kita belajar pada orang yang tepat dan menyerap ilmu sebaik mungkin

Oke, itulah dia beberapa tips dari saya yang disesuaikan dari pengalaman saya mengikuti kursus. Jika kalian ada komentar atau tambahan lainnya, boleh banget disampaikan, lho. Jangan lupa mampir ke blog Mpah untuk melihat cerita dia mengenai pengalaman pertama les ya :)


Cheers,

Zis

Post a Comment

1 Comments

  1. Sama aku juga yang pengen ikut les-les gita walau akhirnya cuma les yang masih berhubungan dengan pelajaran. Tapi itu juga seringnya aku yang minta.

    ReplyDelete