Get Lost


Judul: Get Lost


Penulis: Dini Novita Sari


Penerbit: Bhuana Sastra


Tebal: 198 hlm.


ISBN: 978-60-22-49-4393


Cetakan pertama, November 2013




I need to get lost...
and get lost needs no itinerary...

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan?



Mencari kesenangan baru. Mencari pengalaman baru. Lana memutuskan untuk menyiapkan diri untuk mendapatkan kejutan demi kejutan yang baru dalam perjalanannya.

Total ada empat kota yang menjadi tujuan perjalanan Lana dalam kisah kali ini: Bali, Singapore, Seoul dan Surabaya.

Tiap kota membawa cerita tersendiri. Lewat 'ketersesatannya', Lana bertemu dengan berbagai orang yang menyenangkan. Belajar hal baru dari orang yang juga baru dia temui. Menularkan energi positif untuk teman seperjalanannya. Juga, akhirnya, 'menemukan' dirinya sendiri.

Cerita Lana membawa kita tersadar bahwa tersesat bukanlah suatu hal yang menakutkan. Selalu ada hal yang bisa kita temukan, kita pelajari, tergantung dari bagaimana cara kita melihatnya.

Membaca 'Get Lost' membuat saya semakin ingin melakukan perjalanan sendirian dan tanpa rencana tertentu. Secara jujur, saya bukanlah orang yang senang membaca catatan perjalanan seseorang karena saya tidak begitu detail mengenai tempat atau daerah.

Tetapi novel ini tidak membingungkan saya dengan detail yang berlebihan tentang tempat. Saya benar-benar membaca cerita perjalanan seseorang, bukannya sedang membaca map dalam bentuk teks.

Hal yang sedikit mengganggu saya adalah, menurut saya, terlalu banyak kata ganti "-nya" dalam novel ini. Mungkin bisa diganti dengan keterangan yang lebih panjang atau diganti dengan kata lain.

Selain itu, saya sedikit memperhatikan gambar yang ada di setiap pergantian perjalanan. Sayang sekali, arah panah dari pesawatnya selalu dari Jakarta -> Seoul. Coba kalau di tiap awal kisah, berganti juga arah panahnya, mungkin lebih menarik.

Terus, bukunya tipis XD

Karakter Lana jadi kurang terekspos, menurut saya. Kedekatan dengan Rio yang disebut intens mendekatinya, tidak saya rasakan. Dharma pun yang disebut sebagai seorang yang sangat berarti buat Lana, saya kurang mendapatkan gambaran mengapa bisa begitu.

Di bagian awal buku, saya sedikit merasakan kecepatan alur cerita. Semakin mendekati akhir, saya mulai merasakan alurnya melambat dan saya semakin larut dalam cerita. Akhir ceritanya tidak begitu mengejutkan, tapi tetap membuat saya tersenyum saat cerita ini berakhir.


Kalimat favorit saya berada di bagian yang paling saya suka dari buku ini. Daripada saya spoiler, nikmati saja untaian kata yang akan saya kutip ini:

"Lupakan aku, lepaskan aku. Temui takdirmu sendiri, dan kau akan menemui bahagiamu. Aku yakin itu. Aku akan pulang, tapi entah kapan. Aku hanya ingin memastikan kalau saat ini aku baik-baik saja..."

Hayoo tebak, siapa yang ngomong begitu? #nyebelin #dijitak

I'm waiting for the sequel. Eh, adakah? Semoga saja ada :)

Lots of Love,  ♥ ZP ♥