Judul: Always with Me


Penulis: Hyun Go Wun


Penerjemah: Putu Pramania Adnyana


Penyunting: K.P. Januwarsi


Proofreader: Dini Novita Sari


Ilustrator isi: (at)teguhra


Tebal: 428 hlm.


ISBN: 978-602-774-22-39


Cetakan pertama, Oktober 2013




KISAH LELAKI YANG SANGAT PERCAYA PADA ‘TAKDIR’, DAN WANITA YANG MENGANGGAP SEMUA KEJADIAN HANYA ‘KEBETULAN SEMATA’!

Chae Song Hwa, Cinderella Bertubuh Besar
“Dasar lelaki cabul! Awas saja kalau kau tertangkap tanganku lagi.”

Lelaki itu sungguh arogan. Ia menganggap bahwa seluruh wanita di Korea Selatan harus menyukainya. Selain itu, ia juga punya kebiasaan berbicara banmal kepada para pasiennya seenaknya. Ia bahkan dengan beraninya memanggilku ‘ajumma’, mentang-mentang ia dokter pengobatan tradisional. Entah apa yang terjadi padanya, setelah selama ini bersikap tak sopan padaku, kini tiba-tiba saja lelaki itu tak hentinya memintaku menjadi kekasihnya.

Mencurigakan! Pasti ada sesuatu yang busuk di balik semua sikapnya itu.
Yoon Sang Yup, Romeo yang Kurang Ajar
“Pasti nanti kau akan menyesal. Sudahlah, tidak usah banyak alasan. Ayo, berpacaran denganku!”

Setiap pagi wanita itu selalu tertidur di dalam kereta dengan bau alkohol yang tercium kuat dari tubuhnya. Tidak hanya itu, bahkan air liurnya sampai menetes-netes. Benar-benar ‘suguhan’ sebelum bekerja yang tidak menyenangkan. Namun entah sejak kapan, wanita bernama Song Hwa ini mulai membuatku tersenyum.

Akan tetapi, ketika aku mengajaknya berpacaran, mengapa ia malah menjawabnya dengan permainan gunting-batu-kertas? Aneh. Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala wanita itu?



Chae Song Hwa tidak pernah menyangka akan bertemu dengan seorang seperti Sang Yup. Dia sangat curiga bahwa Sang Yup adalah seorang pasien 'wangja-byung' -> istilah di Korea yang kira-kira berarti, seorang yang terlalu narsis, menganggap diri seperti pangeran.

Sementara Sang Yup sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa dia merasa Song Hwa menarik. Termasuk pada Tae Sup, sahabatnya, yang curiga itu hanyalah bagian dari usaha Sang Yup agar tidak lagi diganggu oleh ibunya, yang sangat terobsesi dengan warisan kakek Sang Yup.

Keduanya dipertemukan oleh takdir, itu yang dipercaya oleh Sang Yup.

Keduanya disatukan oleh pilihan, itu yang diyakini oleh Song Hwa.

Awalnya, saya tidak mengerti kenapa Song Hwa disebut sebagai Cinderella Bertubuh Besar di bagian blurb. Ternyata, kisah hidupnya memang mirip dengan Cinderella!

Memiliki dua saudara tiri yang berkepribadian lebih kuat daripadanya -Onni Yang Ji dan Jang Mi dan juga ibu tiri karena ibunya telah meninggal saat dia masih kecil, wajar kalau Song Hwa disebut Cinderella.

Saat dia bertemu dan akhirnya berpacaran dengan Sang Yup, sang pangeran tampan yang entah mengapa sangat ingin menjadi pacarnya, kisahnya tak berhenti sampai di situ.

Dimulai dari Jin Wook yang menyebut pacarnya sebagai seorang yang mesum. Sang Yup sendiri tidak begitu suka pada Jin Wook, bahkan menyebut lelaki tersebut mempunyai perasaan lebih pada Song Hwa. Tentu saja itu tidak mungkin karena Song Hwa tahu pasti selera Jin Wook kurang lebih adalah seperti Jang Mi, adik tiri Song Hwa yang juga adalah artis terkenal.

Jang Mi jugalah yang akhirnya membawa masalah lain untuk hubungan Song Hwa. Sang bintang yang keras kepala itu tidak rela kalau ada yang mengambil alih 'spotlight'. Dia pun berusaha keras agar Song Hwa dan Sang Yup terpisahkan.

Dari situ, saya merasa kagum dengan hubungan Song Hwa dan Sang Yup. Meski awalnya terkesan seperti mereka memulai hubungan dengan main-main, rasa saling percaya di antara mereka sangat kuat. Ah, saya sangat iri dengan hubungan mereka :(


Ada beberapa adegan di novel ini yang membuat saya rasanya ngilu, tapi tidak berarti jijik. Lebih ke arah, "Astaga, ini manis banget." Meski demikian, manis yang dalam artian masih masuk akal dan bisa diterima. Entahlah, menurut saya, setiap kejadian di novel ini cukup masuk akal dan bisa terjadi di dunia nyata, tidak hanya dalam televisi. Atau, saya yang sudah terbiasa dengan novel Korea atau teenlit, ya? :D

Meski demikian, saya lagi-lagi merasa kebingungan dengan peralihan dialog. Apakah ini masih bagian Sang Yup yang bicara, atau sudah gantian Song Hwa? Terkadang meski sudah diakhiri dan beralih ke paragraf berikutnya, ternyata orangnya masih sama. Atau, keterangan tentang siapa yang berbicara ada di bagian akhir percakapan. Sedikit bikin gemes tapi akhirnya terbiasa juga.

Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk membaca buku ini, sekitar lima jam. Tentu saja setelah dipotong aktivitas lainnya. Meski demikian, lebih karena bukunya yang tebal, kok.

Sepertinya buku ini memang ditujukan untuk menjadi romance comedy. Bagian favorit saya adalah saat Sang Yup sedang bercerita ke Tae Sup alasan dia tertarik pada Song Hwa. Sangat masuk akal dan semakin meyakinkan saya bahwa Sang Yup adalah pria yang perhatian. Kemudian saya dibuat tertawa karena adegan selanjutnya adalah Song Hwa berpikir kenapa Sang Yup tertarik padanya.
Tidak semua lelaki di dunia ini suka dengan Marilyn Monroe, kan? ...Akan tetapi, selain Marylin Monroe, masih ada wanita seperti Gwyneth Paltrow, Angelina Jolie dan Jessica Alba.

Aduh, Song Hwa, kamu polos banget sih :D

Saya sebenarnya juga tidak mengerti penggalan-penggalan dongeng yang sudah 'dipermak' di dalam buku ini. Apakah itu catatan harian dari Song Hwa atau, apa ya? Lucu sih, cuma, agak nggak jelas maksud dan tujuannya.

Tokoh favorit saya tentu saja Sang Yup! Uhuy, pengen banget punya pacar yang tampan dan menarik seperti dia! Terlihat dia sabar, walau memang sedikit plin-plan.

Ending dari cerita ini  sedikit ada yang aneh, menurut saya. Kalau memang bisa semudah itu menyelesaikan masalah dengan ibu Sang Yup, kenapa tidak dilakukan dari awal? Kenapa pula tidak dari awal saja Jang Mi memberi tahu soal si Kecil? Hmm..


Saking sukanya dengan buku ini, saya punya beberapa quote favorit:


"...Takdir hanyalah alasan saja. Tuhan tidak berbuat apa-apa, itu hanyalah pilihan manusia." - hlm.  172


"Karena sejak awal sepertinya kau tidak ingin memilikiku. Karena kau tidak mungkin bersikap tak acuh seperti ini kalau kau mencintaiku meskipun sedikit saja, atau kalau setidaknya kau mempunyai perasaan khusus padaku. Kalau perasaanku padamu tidak hanya perasaan satu arah. Apa aku ini adalah lelaki yang bisa kau lepaskan begitu saja?" -hlm. 260


Yang selanjutnya sebenarnya lebih ke arah percakapan, tapi saya tetap cantumkan karena memang sangat menarik:


"Padahal bisa saja aku ini adalah takdirmu?"


"Kalau kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, tidak akan seperti ini jadinya." -hlm.362


Saya sampai terpikir untuk membahas quotes tersebut di blog pribadi saya. Ditunggu ya, kalau tertarik ;)


Dikarenakan ada adegan yang cukup intim di buku ini, walau enggak heboh banget, saya rekomendasikan buku ini untuk murid SMP ke atas. Biar belajar, nanti kalau cari pacar, cari yang percaya sama kayak gini, ya. #ngomong-ke-diri-sendiri


Lost of  -ups, sorry!


Lots of Love, ♥ ZP ♥