Judul: After D-100


Penulis: Park Mi Youn


Penerjemah: Putu Pramania Adnyana


Penyunting: O Lydia Panduwinata


Cover design & ilustrasi: Bambang 'Bambi' Gunawan


Proofreader: Dini Novita Sari


Cetakan pertama, Juni 2013


ISBN: 978-602-7742-18-5


Cinta adalah suatu perasaan yang menghangatkan dan memberi semangat dalam kehidupan manusia. Saat kita jatuh cinta, kita rela memberikan yang terbaik dari diri kita untuk orang yang kita sayang. Saat kita jatuh cinta, kita akan merasakan suatu perasaan yang berbeda dari yang biasanya kita rasakan.


Pertanyaannya, apakah orang yang kita cinta merasakan hal yang sama dengan yang kita rasakan? Dan, apa yang akan kita lakukan saat tahu kenyataan tersebut?


Dalam suatu peristiwa yang lebih senang disebut sebagai 'ketidaksengajaan', Kang Gyung Hee menemukan bahwa suaminya menyimpan rahasia darinya. Pantas saja suaminya cenderung menutup diri terhadap dirinya.


Kang Gyung Hee memutuskan akan berpisah dengan suaminya, Lee Jung Chul. Tapi, dia tidak rela berpisah begitu saja.


Maka, Gyung Hee pun mulai mengatur strategi agar perpisahannya 'berkesan' bagi suaminya.


Semakin lama, semakin banyak alasan yang Gyung Hee temukan untuk berpisah dengan suaminya. Semakin lama, semakin kuat pula suaminya memohon agar tidak berpisah. Semakin lama, Gyung Hee pun semakin dihadapkan pada pertanyaan,


'Apakah cinta di dalam hatinya bisa habis dalam hitungan hari?'


Buku ini bercerita dari sisi orang pertama. Pada satu part, diambil dari sisi sang suami. Tapi selebihnya, diambil dari sisi istri.


Nyaris sama seperti waktu membaca Paper Romance, saya merasa seperti sedang menonton drama Korea saat membaca buku ini.


Mungkin saya yang kurang referensi, tapi yang saya ingat, drama Korea mengangkat kisah seperti ini. Cewek yang manja tapi keras kepala dan bertemu dengan cowok yang terkesan dingin tetapi sesungguhnya sangat peduli padanya.


Am I right? Huehehe..


Apa itu mengganggu? Enggak, karena saya kan hopeless romantic yaa, apapun terasa romantis saja oleh saya xD


Kalimat favorit saya yang terdapat di buku ini adalah:




"Cinta, aku masih tidak tahu tentang itu. Akan tetapi, aku rindu dengan masa-masa yang kuhabiskan bersamamu. Kalau kau juga masih merindukan saat-saat itu, datanglah kembali padaku." - Lee Jung Chul, hal 288



Eaa, spoiler dikit deh.. Gak apalah ya xD


Terus, ada juga nih, puisi yang terdapat di buku ini dan saya suka banget!




"Janganlah membuat mencintai seseorang menjadi sesuatu yang berdosaJanganlah membuatnya menangis karena diri kita sendiri


Janganlah menyakiti hatimu sendiri saat tidak tahan menghadapi ketakutan karena cinta


Meskipun aku menderita dan mati karena cinta, janganlah mengatakan bahwa kau dulu sangat mencintainya


Di makamku sekalipun, tinggalkanlah kerinduan seperti garam yang memutih."



Karakter favorit saya dalam cerita adalah Jung Woo, sahabat dari Gyung Hee. Entahlah, menurutku dia itu orang yang menyenangkan. Senang bercanda tapi bisa diajak serius. Bisa diandalkan. Tipe cowok ideal banget! #tetep


Novelnya sedikit berat untuk saya yang masih berjiwa muda #pencitraan. Saya menyarankan novel ini untuk dibaca oleh remaja usia 15 tahun ke atas. Lebih tua, lebih baik.


Maklum, novel ini kan membahas hubungan rumah tangga, rasanya sedikit tidak cocok untuk remaja. Walau, tetap menarik dibaca sih, menurut saya, oleh anak muda.


Anyway, saya suka dengan cara penuturan penulis yang menurut saya mudah dicerna. Pemilihan kata yang tepat sekaligus cara penjelasan yang sederhana, membuat pembaca mudah mengerti dan hanyut dalam cerita.


Sebenarnya, akhir-akhir ini sering ragu kalau membaca novel terjemahan. Yang bagus sebenarnya, penulis atau penerjemahnya yaa? #wondering


Nah, membaca novel ini, saya diingatkan bahwa komunikasi adalah hal yang penting dalam suatu hubungan.

Pasangan kita berhak untuk tahu apa yang ada di pikiran kita, apa yang kita inginkan dan apa yang menjadi beban kita.

Pasangan yang tepat bukanlah pasangan yang meringankan beban kita, tapi yang menanggung beban tersebut bersama dengan kita.

Last but not least, terkadang kita terlalu sibuk berjuang masing-masing, bukannya berjuang bersama. Sehingga kita mudah merasa letih dan akhirnya menyerah. Cinta saja tidak cukup, perjuanganlah yang mempertahankannya.

Lots of Love, ♥ ZP ♥

Rate: ♥ ♥ ♥